Gedung-gedung Pengingat Soekarno Di Bandung

Gedung-gedung Pengingat Soekarno Di Bandung
Ternyata meskipun Bung Karno berasal dari belahan timur Pulau Jawa, jejak-jejaknya begitu kental terasa di Bandung. Ibu kota Provinsi Jawa Barat. Bahkan, memorinya akan tanah Pasundan terekam sejak ia masih berusia belia, berawal ketika ia mulai menerukan jenjang pedidikannya di kota ini.

Tidak ada salahnya jika kita menapaki satu persatu jejak sang Bapak Indonesia ini, salah satunya di kota yang dijuluki kota Kembang omo, melalui bangunan-bangunan yang masih menghembuskan nafasnya hingga kini.

Institu Teknologi Bandung

Pada mulanya, Soekarno mengenyam pendidikan di Mojokerto dan Surabaya. Tetapi, ketika beranjak dewasa, yaitu pada tahun 1921, Soekarno bersama teman satu angkatan di sekolah lamanya (Hoogere Burger School/HBS), melanjutkan pendidikan tingginya di Jawa Barat, tepatnya di Hoogeschool te Bandoeng, yang sekarang dikenal dengan nama Institut Teknologi Bandung (ITB).

Gedung-gedung Pengingat Soekarno Di Bandung


Soekarno mengambil jurusan teknik sipil selama 5 tahun di antara bangunan yang dirancang oleh Ir. Henri MacLaine Pont tersebut. Beliau dididik untuk menjadi seorang insinyur atau arsitek di institut tersebut.

Insinyur atau arsitek merupakan salah satu profesi awal yang Soekarno geluti sebelum peranan pentingnya sebagai aktivis dan pejuang kemerdekaan. Soekarno menyelesaikan pendidikan tingginya dan mengikuti proses wisuda bersama 18 insinyur lainnya pada 3 Juli 1926.

Rumah Sejarah Inggit Garnasih

Selain menuntut ilmu, Bandung pun menjadi saksi bagi kisah cintanya dengan Inggit Garnasih, seorang wanita yang terpaut usia 13 tahun di atasnya. Wanita berparas ayu tersebut merupakan pemilik rumah kost yang ia tempati selama berkuliah di Kota Kembang ini.

Gedung-gedung Pengingat Soekarno Di Bandung


Sebuah rumah di Jalan Inggit Garnasih Nomor 174, Ciateul, Kota Bandung, Jawa Barat, adalah saksi awal mula kisah asmara Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. Sesuai namanya, rumah ini adalah kediaman Inggit Garnasih, istri pertama Soekarno.

Menurut sejarah yang dikemukakan oleh Romulo, staf Bagian Koleksi Museum Sribaduga, Soekarno muda tiba di Kota Bandung pada Juni 1921 dengan tujuan berkuliah di Technische Hoogeschool te Bandoeng atau yang sekarang dikenal dengan nama Institut Teknologi Bandung.

Melalui rekomendasi HOS Tjokroaminoto, Soekarno muda dititipkan di rumah salah satu saudagar dan anggota pergerakan Syarikat Islam Indonesia, Sanusi. Di rumah Jalan Inggit Garnasih Nomor 174, Ciateul, Kota Bandung, inilah Soekarno berkenalan dengan Garnasih, istri Sanusi.

Satu tahun Soekarno muda tinggal bersama Sanusi dan Garnasih dalam satu rumah kecil dengan 7 ruangan khusus. Akhirnya, bibit cinta terlarang pun tumbuh di antara Sekarno dan Garnasih.

"Dulu Ibu Inggit panggil Bung Karno dengan nama Kusno," tutur Romulo, Senin (8/6/2015).

Disebut terlarang, lanjutnya, lantaran Soekarno saat itu mencintai istri orang lain. Bukan hanya itu, usia Soekarno yang pada saat itu masih berusia 21 tahun terpaut cukup jauh dengan usia Garnasih yang telah mencapai 34 tahun.

Perselingkuhan antara Soekarno muda dan Garnasih mulai tercium oleh Sanusi. Hingga pada tahun 1922, Sanusi pun menceraikan Garnasih dan merelakannya untuk dinikahi oleh Soekarno muda.

Setahun kemudian, pada tanggal 24 Maret 1923 di Bandung, Soekarno akhirnya menikahi Garnasih secara resmi. Surat nikah antara Soekarno dan Garnasih terpajang di salah satu sudut di Rumah Bersejarah Inggit Garnasih. (kompasiana)

Gedung Merdeka

Gedung Merdeka yang terletak di Jalan Asia Afrika Bandung ini, pada tahun 1895, hanya berupa bangunan sederhana. Bangunan yang mempunyai luas tanah 7.500 meter persegi itu, menjadi tempat pertemuan “Societeit Concordia”, sebuah perkumpulan beranggotakan orang-orang Eropa, terutama Belanda yang berdomisili di Kota Bandung dan sekitarnya.

Gedung-gedung Pengingat Soekarno Di Bandung


Pada 1921, bangunan yang diberi nama sama dengan nama perkumpulannya tersebut, yaitu Concordia, dirombak menjadi gedung pertemuan “super club” yang paling lux, lengkap, eksklusif, dan modern di Nusantara oleh perancang C.P. Wolff Schoemaker dengan gaya Art Deco. Dan tahun 1940, dilakukan pembenahan pada gedung tersebut agar lebih menarik, yaitu dengan cara merenovasi bagian sayap kiri bangunan oleh perancang A.F. Aalbers dengan gaya arsitektur International Style. Fungsi gedung ini adalah sebagai tempat rekreasi.

Pada masa pendudukan Jepang, bangunan utama gedung ini berganti nama menjadi Dai Toa Kaikan yang digunakan sebagai pusat kebudayaan. Sedangkan bangunan sayap kiri gedung diberi nama Yamato yang berfungsi sebagai tempat minum-minum, yang kemudian terbakar (1944).

Setelah Proklamasi Kemerdekan Indonesia (17 Agustus 1945), gedung ini dijadikan markas pemuda Indonesia menghadapi tentara Jepang dan selanjutnya menjadi tempat kegiatan Pemerintah Kota Bandung. Ketika pemerintahan pendudukan (1946 – 1950), fungsi gedung dikembalikan menjadi tempat rekreasi.

Menjelang Konferensi Asia Afrika, gedung itu mengalami perbaikan dan diubah namanya oleh Presiden Indonesia, Soekarno, menjadi Gedung Merdeka pada 7 April 1955.

Gedung Indonesia Menggugat

Letaknya memang menyempit, berada di Jalan Perintis Kemerdekaan 5 atau yang lebih terkenal dengan wilayah viaduc, Bandung, merupakan salah satu gedung bersejarah yang masih kokoh berdiri. Bukan hanya itu, gedung yang dibangun pada tahun 1906-1907 ini, hingga saat ini masih sering digunakan sebagai tempat untuk even-even tertentu. Sebuah bukti bahwa pembuatan gedung di masa lalu, bukan hanya menekankan pada masalah arsitektur, namun memperhitungkan juga segi kekuatan atau ketahanannya.

Gedung-gedung Pengingat Soekarno Di Bandung


Nama Gedung Indonesia Menggugat diambil dari judul pidato pembelaan Soekarno yang ia bacakan sendiri di salah satu ruang di gedung ini pada saat sidang pengadilan kasus politiknya pada 1930. Pada jaman kolonial, Gedung Indonesia Menggugat merupakan gedung pengadilan kolonial Belanda.

Ini Sumber Foto Utama